Minggu, 29 Juni 2014

Bittersweet Adventure 3.0: Bisikan Sesat (Bagian 1)


              Akhirnya libur semester telah tiba. Setelah menjalani semester 4 yang penuh dengan kejutan. Hari jum’at tanggal 27 Juni 2014 merupakan hari terakhir UAS dan 2 hari kemudian sudah memasuki bulan Ramadhan. Maka dari itu, aku dan teman-teman ku memutuskan untuk pergi ke  gunung Bromo lagi. Soalnya pas dulu kesana cuman ke Penanjakan terus pulang, rugi banget. Peserta sebelumnya yang sudah pernah ke Bromo diantaranya aku, Leo, Rangga, dan Tyo serta 6 peserta debut yaitu Bram, Pendik, Anggia, Anggit, Fajar, dan Agung. Beberapa hari sebelumnya, waktu keberangkatan di tentukan sehabis jum’atan namun karena beberapa alasan akhirnya waktu keberangkatan di putuskan menjadi jam 8 malam.

                Sekitar jam 23:30, kami sampai di pos penjagaan dimana kami membayar biaya masuk dan istirahat sebentar ditemani bintang-bintang. Kemudian kami melanjutkan perjalanan. Selama perjalanan, tidak ada halangan yang berarti. Paling hanya suhu pegunungan yang dingin ataupun jalan yang rusak hingga akhirnya kita sampai ke kawasan Pasir Berbisik, “gurun” nya gunung Bromo.
gunung-bromo-pasir-berbisik
Kayak gurun di Arizona. Padahal itu gunung Bromo dari samping
Sebelum memasuki Pasir Berbisik, kami melewati tebing dan perbukitan hijau yang biasa disebut “Bukit Teletubbies”. Jalan di daerah ini masih lumayan bisa di ikuti dikarenakan jalur yang sudah ada. Saat memasuki Pasir Berbisik jalan dan bintang dilangit masih bisa dilihat walaupun kabut tipis mulai turun. Sambil melanjutkan perjalanan, ternyata kabut semakin tebal sehingga jarak pandang hanya sekitar 1 meter. Aku dan Tyo mengambil posisi paling depan sebagai penunjuk jalan dengan mengandalkan insting dan jejak kendaraan yang sebelumnya lewat.
                “Koq kayaknya kita dari tadi cuman muter-muter aja ya,” Bilang Anggia dengan heran.
                “Ah gak koq, emang jaraknya agak jauh,” balas Rangga dengan yakin.
Sebenernya aku juga berpikiran seperti itu. Dulu pas pertama kali kesana gak seperti ini. Setelah sekian lama mencari jalan, akhirnya kami menemukan sebuah papan peringatan.
gunung-bromo-pasir-berbisik
Gak boleh masuk katanya
Mungkin kami lagi di jalur yang salah sehingga kami memutuskan untuk berbalik arah. Kabut semakin tebal hingga menutupi bintang. Kami semakin kesulitan dalam mencari arah. Setelah berkendara cukup lama, akhirnya kami menyerah dan memutuskan untuk berhenti sambil menunggu kendaraan lain lewat. Beberapa menit kemudian, suara mesin mobil jeep terdengar sayup-sayup dan terlihat cahaya dari kejauhan. Kami segera memberi sinyal dengan menyalakan lampu motor sambil melambaikan tangan. Untungnya mobil jeep tersebut merespon namun mereka hanya memberi klakson dan melaju dengan cepat. Kami langsung mengikuti mobil jeep tersebut. Sayangnya kami kehilangan jejak mobil tersebut selain karena terlalu cepat dan beberapa dari kami tertinggal akibat medan pasir yang licin. Selanjutnya, kami hanya mengikuti jejak ban mobil tersebut. Beberapa saat kemudian kami menemukan papan peringatan dalam kondisi mengenaskan.
gunung-bromo-pasir-berbisik
Maksudnya apa?
Kami semakin bingung karena kehilangan arah. Kemudian kami berbalik arah ke tempat awal tadi dengan berbekal insting seadanya dan jejak ban motor kami sebelumnya. Suhu dingin yang menusuk tulang, hidung dan mata mulai berair. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti dan mencari sesuatu yang bisa dibakar untuk menghangatkan tubuh. Kami akhirnya menemukan rumput bekas makanan kuda namun basah karena terkena embun. Sambil menyiapkan perapian seadanya, beberapa dari kami berusaha menghangatkan tubuh dengan berpelukan menempelkan tangan pada knalpot namun apadaya karena saat itu panas knalpot hanya sebatas suhu pada ketek, hehehe. Kami berdoa dalam hati berharap pertolongan Allah. Alhamdulillah, tak lama kemudian 3 buah mobil jeep muncul, kami pun langsung mencegat dan bertanya ke salah satu orang disana.
                “lurus abis itu belok kiri, mas. Ayo buruan kalo mau ngikutin” Jawab orang tersebut.
Kami segera bersiap, namun masalah selanjutnya muncul.
                “Rek, kunci motor ku mana ya?” Tanya Tyo yang udah mulai panik.
Waduh!!!! Gimana ini????
-          Bersambung    -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar