Sabtu, 08 Maret 2014

Sumber Maron: Sumber Alami Kehidupan


Sumber Maron: Sumber Alami Kehidupan
(Maksa) Liburan lagi coyyy!!
               Akhirnya (maksa) liburan lagi. Setelah melewati awal minggu kuliah, aku pun mengajak teman-teman ku untuk pergi ke tempat wisata yang belum begitu dikenal banyak orang. Rencananya udah banyak yang mau ikut tapi pas udah deket-deket hari H banyak yang gak jadi ikut dikarenakan mereka punya urusan mendadak. Yaudah, daripada entar cuman tinggal rencana tok kayak rencana-rencana liburan kemaren dan udah bosen di PHP in terus (weekekekek). Mau gak mau harus jadi walaupun yang pergi cuman 4 orang doang(*). 

                Sabtu pagi, aku, Pendik, Toni udah berkumpul di kost ku. Kami menunggu sang “juru kunci”, Tio. Karena kalo gak ada dia, rencana (mungkin) gagal karena dia yang udah pernah kesana. Setelah Tio nyampe di depan sport center UB, kami bertiga segera bergegas kesana. Kami berempat  pergi ke Sumber Maron dengan mobil hijet nya. Setelah itu, kami langsung berangkat ke TKP.

                Sumber Maron merupakan sumber air yang terletak di desa Karangsuko, kecamatan Pagelaran, kabupaten Malang ini menyimpan pesona yang sangat menawan. Tempat wisata ini memang belum begitu terkenal di kalangan masyarakat dikarenakan tempatnya tersembunyi dan minimnya informasi tentang tempat ini. Namun, Sejak tahun 2006, potensi Sumber Maron ini sudah dimanfaatkan sebagai sumber air bersih yang disalurkan ke rumah-rumah warga Desa Karangsuko dan beberapa desa sekitarnya. Dan sejak April 2012 untuk proses penyaluran air bersih tersebut, mulai menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro (PLTMH) dengan alat turbin.

                Kami berangkat dengan santai karena masih pagi. Sekitar jam 8:30 an, kami sudah sampai namun, si Tio malah putar balik.
                “Lho, katanya sudah sampe? Koq balik lagi?” Tanya ku
                “Tempatnya ditutup, “ jawab Tio dengan santainya
                “Hah?”
Olala, ternyata puter balik itu mau nyari tukang tambal ban yang ada di seberang jalan. Buat nambal ban dalam yang mau kami pake buat main disana. Kampret. Selagi menunggu, kami membeli gorengan untuk sarapan yang ada di deket tukang tambal ban tersebut.
10ribu dapet banyak :D
Sumber Maron: Sumber Alami Kehidupan
Om nomnomom
Setelah selesai, kami langsung pergi ke TKP. Sesampainya disana, kami parker di halaman rumah warga karena memang lahan untuk parkir mobil masih sedikit tidak seperti tempat parkir sepeda motor yang cukup luas. Untuk masuk ke sumber maron ini, kalian hanya ditarik uang parkir aja sekitar Rp 2.000,- untuk sepeda motor dan Rp 5.000,- untuk mobil. Setelah parkir,  kami berjalan kaki sekitar beberapa meter. Udara yang sejuk dan bersih serta kicauan burung menyambut kedatangan kami (ceileeee). Di pinggir jalan setapak terdapat persawahaan yang dibuat terasiring seperti yang ada di Bali. Amboi, indah sekali pemandangannya. Kemudian disusul sumber Maron yang airnya bening dan jernih hingga batu dan ikan-ikannya terlihat jelas.
                “Subhanallah, kayak di surga. Padahal belum pernah kesana,” pikirku lebay.
Sumber Maron: Sumber Alami Kehidupan
Perjalanan ke sumber
Sawah
Sumber Maron: Sumber Alami Kehidupan
Her it is.. Sumber Maron. Sayangnya langit lagi mendung
jadi gak begitu keliatan beningnya kalo di foto
Setelah sampe di pinggir sumber, aku langsung bergegas melucuti pakaian ku dan langsung nyemplung. Wuihhhh suegerrrrrrr banget! Dan tidak lupa aku juga mencicipi airnya (yek!)
“rek, airnya seger!!!” teriak ku pada teman-teman ku.
Toni dan Tio masih agak jaim buat mandi sementara Pendik masih bingung masalah tas  harus ditaro dimana.
                Setelah beberapa menit, akhirnya mereka nyemplung juga, hihihi.
Sumber Maron: Sumber Alami Kehidupan
Sampe lupa diri
Sumber Maron: Sumber Alami Kehidupan
Pendik
Sumber Maron: Sumber Alami Kehidupan
Toni lagi nyari ikan (tapi gak dapet)
Sumber Maron: Sumber Alami Kehidupan
Bening...
Gak lama kemudian, ada seorang bapak yang nyamperin Tio. Terus beliau bilang sesuatu pake bahasa Jawa dan aku denger ada kata-kata “ban” gitu. Wah jangan-jangan kalo berenang disini gak boleh bawa ban dari rumah dan harus nyewa ban disini. Akhirnya, aku tanya Tio dan ternyata bapak itu mau beli ban nya Tio karena ukurannya yang besar tapi si Tio gak mau. Bapak itu menawar dengan harga Rp 25.000,-/ban. Oalah, kukira tadi dimarahin. hihihi
Sumber Maron: Sumber Alami Kehidupan
Biarpun begini banyak yang ngincer lho
Oh iya, kalo mau kesini hati-hati ya. Soalnya batu yang ada di dalam sumber licin karena lumut. Kaki ku aja sampe luka walaupun luka kecil dan baru terasa saat udah pulang saking senengnya mainan disana. Yang lebih seru lagi, di sumber Maron kita bias berenang bersama ikan-ikan warna-warni yang aku gak tau namanya apa. Jadi kalo bawa kacamata renang ya kayak diving di air tawar gitu. Bagus banget pokoknya.
Sumber Maron: Sumber Alami Kehidupan
Banyak ikan warna-warni
Sumber Maron: Sumber Alami Kehidupan
Wow
                Setelah bosen berenang, kami lanjut ke air terjun di bagian bawah. Air terjun dengan ketinggian sekitar 5-6 meter dan kemiringan 60 derajat ini memiliki aliran yang lumayan deras. Banyak pengunjung yang foto-foto di tempat ini. Selain itu, jika menyewa ban kalian bisa bermain arung jeram versi murah karena arus sungai disana cukup menantang.
Sumber Maron: Sumber Alami Kehidupan
Kecil tapi mempesona
Sumber Maron: Sumber Alami Kehidupan
Tenang dan menghanyutkan
                Namun, beberapa saat kemudian gerimis turun. Kami segera berteduh di warung terdekat. Sambil menunggu gerimis reda, kami memesan beberapa minuman sebagai penghangat badan. Dan kalian tahu, harga makana serta minuman disana sangat TERJANGKAU. Jadi gak usah khawatir kalo kalian gak bawa duit banyak.
Sumber Maron: Sumber Alami Kehidupan
 sok imut
Sumber Maron: Sumber Alami Kehidupan
Sok cool
Sumber Maron: Sumber Alami Kehidupan
Sang pemburu minum kopi
Sumber Maron: Sumber Alami Kehidupan
Miftah
Setelah gerimis reda, kami pun lanjut ke air terjun lagi. Mainan arung jeram, foto-foto, dan lain-lain. Pas udah mau selesai, ternyata ada laba-laba besar nangkring di tasnya Pendik. Untungnya ada sang pemburu, Tio Van Gogh, yang berani sama hewan liar, hahahaha.
Sumber Maron: Sumber Alami Kehidupan
Oh, hello there!
Sumber Maron: Sumber Alami Kehidupan
Ketika bapak dan anak bertemu, hihihi
Hari sudah siang, saatnya pergi dari air terjun. Tapi poto dulu ah.
Sumber Maron: Sumber Alami Kehidupan

Sumber Maron: Sumber Alami Kehidupan

Kemudian, kami berenang lagi di sumber, hihihi. Setelah itu kami pulang sekitar jam 12 siang dengan perasaan lega. Ah, senangnya.
Sumber Maron: Sumber Alami Kehidupan
Pembilasan terakhir sebelum pulang :D
stadion-kanjuruhan-malang
PTIIK's Next Top Model
                Kami pulang lewat stadion Kanjuruhan. Kami mampir sebentar buat liat-liat keadaan disana. Ternyata, stadion kebanggaan arek Malang ini besar banget. Jadi pengen ngadain konser disana *preeetttt hahaha

Begitulah perjalanan kami ke Sumber Maron walaupun hanya berempat tapi seru lah. Oh iya, kalo kalian mau kesana, patuhi aturan disana dan jangan buang sampah sembarangan. Jangan sampe tempat bagus kayak gitu jadi kotor di kemudian hari. Salam

referensi: ngalam.web.id/read/4214/pemandian-alam-sumber-maron/

(*) sebenernya, hari rabu (26 Februari) mereka pergi lagi ke Sumber Maron dengan massa yang lebih banyak (ketambahan si Anas, Anggia, Gita, sama Bram) sayangnya aku gak ikut dikarenakan lagi krismon, hihihi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar