Minggu, 10 November 2013

Bittersweet Adventure 2.0: Secuil Surga di ranu Kumbolo (Part 4/Tamat)

         Setelah puas menikmati keindahan alam Cemoro Kandang dan Oro-oro Ombo, kami pun segera balik ke Ranu Kumbolo.
Bittersweet Adventure 2.0: Secuil Surga di ranu Kumbolo (Part 4/Tamat)
Berpose dengan latar ranu Kumbolo
          Saat melewati Tanjakan Cinta, aku tertinggal jauh dari teman-teman ku karena kaki kiri ku sakit dan harus turun pelan-pelan.
Bittersweet Adventure 2.0: Secuil Surga di ranu Kumbolo (Part 4/Tamat)
Tertinggal
            Sampai di tenda, kami segera membuat sarapan. Menu terakhir kami saat itu adalah mi instan di tambah 1 kaleng besar sarden. Haha lumayan. Sehabis sarapan, kami istirahat sejenak sambil beres-beres ringan karena siang itu kami harus segera meninggalkan Ranu Kumbolo yang indah. Sedih sekaligus seneng sih. Sedih karena harus meninggalkan tempat seindah itu dan seneng karena gak bakal tersiksa lagi oleh dinginnya suhu di Ranu Kumbolo.
Bittersweet Adventure 2.0: Secuil Surga di ranu Kumbolo (Part 4/Tamat)
Rangga lagi berjemur
Udara dingin namun matahari bersinar terik dengan sedikit awan putih di langit. Kami sedang beres-beres menurunkan tenda dan segala perlengkapan kemah. Tiba-tiba ada seorang porter yang datang menghampiri kami.
                “Butuh porter, mas?” tawarnya.
                “Oh, gak pak. Kami bisa koq bawa barang-barangnya soalnya orangnya juga pas.” Jawabku.
                “oh, yasudah kalo gitu.”
Selain barang bawaan kita yang gak begitu banyak, nyewa porter itu MAHAL. Sebanding sih sama rute dan barang yang dibawa porter tersebut.
Tiba-tiba teman si porter datang menghampiri porter dan menceritakan bahwa ada seorang pendaki yang hilang di sekitar Arcopodo. Terus aku, Anggit sama Vicky ikut nimbrung ngobrol bersama 2 porter tersebut. Porter tersebut menceritakan kronologi kejadiannya yang aku sudah lupa dan hal-hal yang gak boleh dilakukan di BBTNBTS.
                “kena efek pilem yang di konversikan menjadi 25 milimeter di kali 2 ya mas?” sang porter tiba-tiba nanya (ya ela judul pilemnya rumit bener. Emang sengaja soalnya, hihihi)
                “yah sedikit sih pak sekitar 5% gitu lah. Sisanya karena penasaran aja katanya orang-orang alam di sini itu bagus,” jawab ku antusias.
                “oh. Tak kira kena efek pilem itu soalnya banyak pendaki yang kesini karena pilem yang dikonversikan jadi 25 milimeter dikali 2 itu mas. Saya sampe bela-belain ke Malang buat nonton itu pilem” balas sang porter.
“soalnya saya juga ikut berpartisipasi dalam pilem itu. Wong sekitar 250 porter di pake semua sama kru pilem yang berjumlah sekitar 90 orang termasuk artisnya.”
Kemudian Anggit sama Vicky nanya-nanya dibalik pembuatan pilem yang dikonversikan jadi 25 milimeter dikali 2. Untungnya si porter cerita lumayan banyak mengenai pilem itu. Tapi sayangnya aku gak mau cerita disini, hihihi. Tiba-tiba si Rangga teriak.
                “WOIII!!!! BANTUIN!!!! ” teriaknya
Aku dan Vicky langsung bantuin dia daripada nanti tambah ngamuk terus makan itu tenda. bisa berabe nanti kalo tendanya rusak terus di marahin sama si ibu tukang penyewaan tenda, hihihi.

                Sekitar jam 1 siang, kami pun siap untuk turun. Saat perjalanan menuju pos 4 kami bertemu dengan 1 rombongan pendaki. Seorang dari mereka menanyai kami.
                “maaf mas. Ada sisa logistik gak? Kalo ada kami mau beli logistik itu,” katanya
Aku pun langsung mengecek tas ku dan mengeluarkan 2 bungkus roti serta beberapa bungkus mi instan.
                “berapa mas?” tanya seorang pendaki tersebut sambil hendak memberi uang.
                “ambil aja mas,” jawabku dan teman-teman ku pun setuju untuk memberi nya logistik secara cuma-cuma
                “wah terima kasih banyak, mas” jawabnya senang.
                “alhamdulillah, beban bawaan ku berkurang sedikit,” kata ku dalem hati.  walaupun aku gak bawa tas karier tapi aku bawa kresek isi sampah yang lumayan berat

             Kami pun melanjutkan perjalanan sambil melihat Ranu Kumbolo dari atas tebing untuk yang terakhir kalinya
ranu-kumbolo
sayonara, Ranu Kumbolo
Di tengah perjalanan, kami juga melihat betapa gagahnya gunung Semeru dari kejauhan. Mungkin saat ini memang belum bisa kesana karena persiapan fisik dan mental yang masih kurang.
gunung-semeru-mahameru
Indah sekali
                Untuk rute pulang, kami berjalan agak cepat dan jumlah istirahat yang sedkit namun durasi istirahat yang agak lama. untuk kondisi track pun kebanyakan turunan sehingga gak begitu capek, ya iya lah namanya juga turun gunung. Waktu turun gunung pun lebih cepat dari saat berangkat, yaitu sekitar 4 jam an. Sekitar jam setengah 5 lewat akhirnya kami sampai di Ranu Pane dengan selamat. Setelah lapor petugas, kami pun mampir ke warung buat makan pecel sama minum es campur. Wuihh enak banget rasanya setelah turun gunung yang melelahkan.
es-campur-ranu-pane
Keliatannya biasa aja tapi menurut ku
enak banget. Mungkin karena kehausan kali
Disana warung itu juga sudah ada beberapa pendaki yang sampai duluan. Kami pun berbagi cerita tentang pengalaman saat mendaki. Saat pukul 17:30, kami segera meninggalkan Ranu Pane yang saat itu udah mulai dingin. Saat perjalanan pulang, aku langsung menelpon orang tua di Balikpapan.
                “Halo,” ternyata ibuku yang mengangkat telepon
                “halo, bu!! Aku udah turun gunung,” balas ku riang.
                “hah apa? ‘kresek’ ‘kresek’ ,” suara di telpon kurang jelas karena sinyal yang empot-empotan
                ‘tlut–tlut-tlut’ bunyi hape ku yang udah kehabisan baterai. Yah keputus deh.
Kami sampai di Malang sekitar jam 9 lewat. Kami bertiga akhirnya memutuskan untuk menginap di kost Vicky yang kebetulan lagi kosong. Saat udah sampe, si Vicky mengeluarkan air yang dibawa dari Ranu Kumbolo. Terus dia nanya ke aku.
                “Mif, ini masih mau kamu minum kah?”
Aku pun langsung melihat air tersebut. Di sana terlihat ada tanah bercapur rumput pokoknya ya gak begitu bersih lah.
                “Kalo masih di Ranu Kumbolo ya ku minum, sayangnya kita udah di Malang dan di sini ada air PDAM sama Aqua,” jawab ku sambil membuang air itu di kamar mandi. Untungnya sampe beberapa hari selanjutnya perut ku gak kenapa-kenapa. Memang Allah SWT maha adil lagi maha mengetahui.

(TAMAT)

Sumber foto dari: kamera HP ku, kamera Anggit, dan kamera Vicky

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar