Selasa, 12 November 2013

“Anjing Lu!” (eksplisit)

PERHATIAN: tulisan ini hanya boleh dibaca untuk anda yang berusia 18 tahun keatas. Tulisan ini hanya bersifat menghibur dan menambah pengetahuan. Saya tidak bertanggung jawab atas perbuatan anda yang menyalahgunakan tulisan ini. Selamat menikmati
anjing-doge-meme
Gukgukguk
                Sejak dulu, aku masih bingung kenapa kebanyakan orang Indonesia kalo marah atau sangat kesal  selalu membawa-bawa hewan lucu seperti gambar diatas. Padahal hewan tersebut gak punya salah sama manusia. Untuk contoh bisa liat gambar-gambar dibawah ini (kalo gak keliatan di klik aja):
“Anjing Loe!” (eksplisit)

“Anjing Loe!” (eksplisit) juki

“Anjing Loe!” (eksplisit)

“Anjing Loe!” (eksplisit)

“Anjing Loe!” (eksplisit)

“Anjing Loe!” (eksplisit)

                Bahkan sejak awal era 2000an, kata anjing sendiri di plesetkan menjadi beberapa kata seperti anjir, anjoy, anjrit, anying, njing/jing, anjas, anjos, dan lain-lain. untuk contoh penggunaan, anda dapat membaca beberapa kalimat dibawah ini:
  1. “Anjrit! Sempak gue belum di jemur”
  2. “ada polisi lagi, anjir!!!”
  3. “Masih hidup loe, njing/jing?” kalimat ini biasa digunakan untuk teman yang sudah dekat. Buat lucu-lucuan aja sih, hihihihi.
  4. Tambahin sendiri
Anda juga dapat memanjangkan bunyi vokal atau menambah huruf yang sesuai  biar lebih drama. Contoh:
 “WUAAAANJEEEEEEENG!!! Siapa yang nyolong duit ku??!!”

                Selama aku di kuliah di Malang, aku gak pernah denger orang asli Malang ngomong “anjing” sambil marah-marah karena mereka kalo ngomong pake bahasa Jawa, jadi kalo mengumpat yo pake bahasa jawa juga (e.g asu). Kalo untuk aku sendiri, DULU aku gak pernah lho ngomong “anjing”, karena ibu ku membawa ku ke TPA (Taman Pendidikan Al-qur’an) dimana kata-kata kasar sangat dilarang disana dan itu terbukti manjur. Namun setelah lulus dari sana dan faktor lingkungan sekolah yang mulai gak bener jadi terpengaruh deh walaupun gak separah anak-anak lain.

                Aku sebelumnya masih bingung, kenapa orang-orang selalu membawa-bawa si “anjing” kalo lagi marah ato kesal. Kenapa  gak pake hewan-hewan lain yang lebih bervariasi seperti:
  1. “kucing, lo!”
  2. “bebek, gue telat lagi”
  3. “makanya jangan tidur mulu, sapi”
  Kemudian aku pun melakukan riset dan akhirnya aku menarik kesimpulan, yaitu:
  1. Liur anjing itu najis (bagi umat muslim)
  2. Anjing adalah hewan tak berakal
  3. Lebih pas aja buat ngumpat
             Biasanya, para orang tua mengajarkan anaknya untuk mengalihkan kata "anjing" menjadi kata "gukguk". Mungkin biar gak terkontaminasi dari pengaruh lingkungan kali ya. Contohnya begini:
            "Dek, kalo siang jangan main ke sana. Nanti di gigit gukguk lho"

Demikianlah, semoga tulisan saya bisa menghibur dan maaf kalo agak garing, hihihi.

Sumber gambar: internet dan 1cak

7 komentar: