Minggu, 29 September 2013

Bittersweet Adventure: Perjalanan ke Bromo


bromo-petualangan-kawan-liburan
Ngumpul semua
Hai, maaf ya baru bisa nulis sekarang. Mumpung sekarang lagi nganggur dan ingatan udah kembali pulih aku mau cerita tentang pengalaman ku ke gunung Bromo. Sebenernya aku udah dari SD pengen ke gunung yang memiliki ketinggian 2.392 meter diatas permukaan laut ini dan alhamdulillah keinginan ku terwujud saat kuliah. Hmmm cukup lama juga ya.
Mumpung libur 3 hari dari tanggal 16 – 18 November 2012 (jum’at, sabtu, minggu), salah seorang temen ku ngajakin ke Bromo, langsung aja aku melakukan registrasi buat ikut. Hehehe. Sekitaran jam 8 malem, temen-temen udah pada ngumpul di tempat ku. sekitar 10 orang yang ikut seperti Wim, Tyo, Reza, Leo, Dullah, Vicky, Upit, Hago, Rangga, dan diriku sendiri. Sekitar jam 12 malem, kami bersepuluh berangkat mengendarai 5 motor. Sebelum melanjutkan perjalanan kami membeli perbekalan dan mengisi bensin. Di tengah jalan kami di kejutkan dengan penampakan yang cukup unik (menurutku lho)...

bromo-sarung-perjalanan-petualangan
Gak ada jaket, sarung pun jadi

Selama perjalanan ke Tumpang masih lancar. Nah, pas sudah sampe Tumpang daerah tanjakan, tantangan di mulai. Pas udah mulai tanjakan, motornya ternyata gak kuat buat naik karena boncengan. Akhirnya yang di bonceng di suruh dorong motor. Duh, mana kanan-kiri isinya hutan tok terus gak ada lampu lain selain lampu motor pula, syereeem. Tapi untungnya gak berlangsung lama sih, hehehe. Setelah melewati tantangan pertama (ceileh bahasanya!), kita akhirnya sampai ke desa Ngadas, desa pertama setelah melewati hutan-hutan yang gelap gulita (kalo malem). Kita melanjutkan perjalanan dengan lancar sampai pertigaan yang aku lupa apa nama daerahnya, maap ye. Nah, di pertigaan ini, kita malah ambil jalur lurus. Awalnya sih jalur tersebut masih cukup “aman”. Tapi koq semakin lama jalannya koq semakin sempit terus berlumpur lagi. Akhirnya dengan pertimbangan yang matang, kami memutuskan untuk kembali ke pertigaan awal. Setelah sampe, kami berhenti sekalian istirahat dan menghangatkan tubuh di perapian di warung yang ada di pertigaan tersebut. Sambil menikmati puluhan bintang di langit (soalnya di Malang rada susah ngeliat bintang di karenakan polusi cahaya) kami ngobrol dengan pemilik warung,  dan ternyata jalur yang harus kita ambil itu jalur ke kiri. Wah, untung aja gak di terusin tuh.

jalan-arah-denah-bromo
Kalo gak salah sih begini

Setelah sekitar 10 menit beristirahat, kami mulai melanjutkan perjalanan tapi sekarang posisi pengendara udah berganti. Aku lupa susunannya, yang ku inget aku bonceng Hago pake motor revo kuningnya Leo, terus si Abdul bonceng Leo kalo gak salah. Pada rute ini, kami melewati padang pasir yang gelap, licin, dan dingin. Tapi tetep masih ditemani banyak bintang yang bersinar tanpa malu. Syahdu sekali. Tapi aku mengendarai motor dengan kecepatan sedang dan tertinggal paling belakang, karena melewati padang pasir yang cukup licin dan tidak datar, motor yang ku pakai jadi "jaipongan" gak karuan dan hampir terjatuh beberapa kali, cukup ekstrim juga sih medannya, hehe.

                Setelah melewati padang pasir, sekitar jam setengah 4 pagi kami sampai di pondok tempat para pengunjung berkumpul. Disana sudah banyak orang yang sudah datang, terus banyak orang jual makanan dan souvenir khas gunung Bromo. Beberapa dari kami ada yang langsung mencari toilet karena sudah tak tahan menahan kencing semenjak perjalanan sebelumnya. Namun, toiletnya tidak seperti yang dibayang kan. Bau pesing langsung menusuk hidung serta tidak adanya lampu serta air untuk sanitasi. Yah, mau gak mau daripada di tahan lebih baik di keluarin aja. Untungnya gak nahan berak pup, kalo misalnya harus pup disitu berabe dah.

                Selesai menuntaskan hajat, kami kemudian membeli sarung tangan untuk menghangatkan tangan (padahal menurut ku udah gak begitu dingin). Nah, pas si Vicky veli sarung tangan, dia nampaknya kebingungan, “Mas, kok sarung tangannya kanan semua?” ujarnya. Kemudian sang penjual pun membalik posisi sarung tangan yang satunya. Kemudian Vicky baru ngeh. Hahaha mungkin karena warnanya depan-belakang sama, makanya dia bingung.

                Untuk mempersingkat waktu, kami langsung ke Penanjakan untuk melihat matahari terbit. Cukup capek juga sih. Mana penerangan cuman bermodalkan senter orang lain lagi. Terus pada saat naik ke Penanjakan ada banyak orang yang menyewakan kuda. Karena banyak kuda itu, jalanan yang kami lewati banyak tokai kuda nya. Udah gelap banyak “ranjau” darat pula -_- jadi harus hati-hati.  Kami sampai ke tempat yang view nya bagus sekitar jam 5 kurang kayaknya. Dan alhamdulillah cuaca lagi cerah jadi bisa melihat matahari terbit secara nyata ditemani dengan gagahnya gunung Bromo, gunung Batok, gunung Semeru dan padang pasir yang memanjakan mata. Subhanallah J


               
bromo-kawan-liburan
Aku yang paling mini 


bromo-kumis-liburan
Om kumis lagi motoin apa tuh?
bromo-pagi-liburan-kawan-teman
(kiri ke kanan)Wim, Abdul, Leo, Hago, aku, Tyo, dan Reza

                                 
bromo-turis-liburan
Menanti sang fajar terbit

sunrise-bromo-indah-me
Serasa Model(empar)

bromo-gila-lelah
Rangga lagi teler
bromo-fotografer
Wim si Toekang Poto

bromo-kumpul-asik-rame
Wow
                                   

bromo-selfie-me
MiIefTTah Zi Couonarziecst EanggCLlaluw Cyank'shiidiea CLlamanya (huekkk)
bromo-lelah-kumpul-liburan-petualangan
Istirahat sehabis naik gunung

petualangan-bromo-lelah-indah-liburan
Muka lelah
Setelah puas foto-foto, kami memutuskan untuk ke padang pasir sekalian naik gunung Bromo. Namun, ketika sampe disana alangkah terkejutnya kami, ternyata untuk kembali ke padang pasir di suruh BAYAR. Iya bener disuruh bayar. Aku lupa nominalnya berapa. Akhirnya, setelah berunding, kami memutuskan untuk pulang lewat Probolinggo dikarenakan masalah “bayar” tersebut (huuu...pelit). kami pulang melewati banyak tebing, dan perkebunan sayur warga yang ijo royo-royo. Udara yang sejuk dan pemandangan yang indah sangat menentramkan jiwa. Sungguh indah ciptaan-Mu, ya Allah. Di tengah perjalanan, beberapa dari kami membeli bunga abadi, edelweis, sebagai kenang-kenagan.


bromo-desa
salah satu bukit

bromo-tidur-perjalanan-pulang
iseng

bromo-edelweis-beli
Lagi transaksi bunga edelweis

bromo-desa-hutan-pohon
Sayangnya pake kamera hape sih :(

hutan-kebun-bromo
Kebun sayur

bromo-tebing
Jadi inget kampung halamanku, Swis (prett)

                Kami kemudian melanjutkan perjalanan lewat Probolinggo yang rutenya lebih jauh daripada jalur Tumpang. Ditengah perjalanan kami beristirahat sekalian membeli bensin untuk bekal pulang ke Malang
               
bromo-pulang-probolinggo-pom-bensin-lelah
Bobo Pagi dulu

liburan-lelah
Aduh...tepar aku

bromo-istirahat-lelah-pulang-liburan
Eh udah pada bangun 

                Akhirnya kita tiba di Malang sekitar jam 2 siang dengan kondisi basah karena kehujanan di jalan. Untuk aja anak-anak kuat karena  pake baterai ABC, hihihi (maap kalo garing)
                Terima kasih buat Wim untuk foto-fotonya.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar