Senin, 14 Juli 2014

Bittersweet Adventure 3.0: Bisikan Sesat (Bagian 2/Tamat)

              Setelah kebingungan mencari kunci, alhamdulillah akhirnya kunci motornya ketemu. Kami langsung bergegas mengikuti mobil tersebut. Namun apa daya kami tertinggal lagi. Kami memutuskan untuk berhenti lagi sambil menunggu kendaraan yang lewat karena kami yakin bahwa sudah erada di jalan yang benar, hihihi. Benar dugaan kami, tak lama kemudian sebuah mobil jeep lewat namun mobil itu malah mendekati rombongan kami.  

                “Mas, ini arahnya kemana ya?” Tanya sang sopir
                Wah, bahkan ternyata sopir mobil jeep juga kebingungan, lho. Gak lama kemudian beberapa rombongan sepeda motor menghampiri kami juga dan kelihatannya mereka tersesat juga. Ternyata gak hanya rombongan kami aja yang tersesat, rombongan lain juga. Akhirnya kami semua berangkat bareng menuju arah Penanjakan. Akhirnya sekitar setengah jam kami menemui “peradaban”. Sampai disana kami segera mendekat ke  api unggun dan beristirahat.
Bittersweet Adventure 3.0: Bisikan Sesat (Bagian 2/Tamat)

Bittersweet Adventure 3.0: Bisikan Sesat (Bagian 2/Tamat)

                Masih tersisa satu rintangan lagi. Untuk melihat matahari terbit dengan view yang sempurna, kami harus melewati tanjakan yang tinggi dan memiliki  kemiringan sekitar 45-60 derajat. Wow. Sehingga kalo naik motor , yang di bonceng harus turun dulu. Aku melihat dari bawah tempat, lampu mobil di tanjakan terlihat samar-samar dari kejauhan. Karena di sekeliling tanjakan lumayan gelap. Maka mobil-mobil tersebut terlihat seperti “terbang” ke langit. Hmmm, apik.
                Setelah cukup istirahat, kami melanjutkan perjalanan. Ternyata seperti dugaan sebelumnya, cukup berat juga melewati tanjakan itu. Namun tenang aja, disana ada tukang ojek yang siap membantu (tapi bayar). Sekitar pukul 4 pagi, kami sampai di mushola dalam keadaan lelah dan kedinginan. Karena jalan untuk keatas sudah macet dipenuhi hardtop dan jeep, kami memutuskan untuk pakir di kawasan mushola. Hawa dingin masih lekat di area ini. Bahkan sampai karpet yang ada di dalam mushola pun juga ikutan dingin, brrr. Sambil menunggu waktu subuh, kami istirahat sejenak meluruskan kunam  tulang punggung dan menghangatkan badan di api unggun. Usai sholat subuh, kami bergegas ke area Penanjakan untuk melihat apa yang dikatakan orang-orang sebelumnya. Keindahan matahari terbit di Bromo, asiiik.
                Sekitar 15 menit, kami sampai di puncak…. Penanjakan. Disana udah banyak orang yang memburu keindahan sang surya yang terbit dari peraduan. Suhu sudah mulai menghangat walaupun masih sedikit dingin. Keindahan Bromo, Batok, Semeru, ditambah dengan kabut di kaki gunung membuat kita seperti ada di negeri awan. Subhanallah.
Bittersweet Adventure 3.0: Bisikan Sesat (Bagian 2/Tamat)
Bittersweet Adventure 3.0: Bisikan Sesat (Bagian 2/Tamat)

Bittersweet Adventure 3.0: Bisikan Sesat (Bagian 2/Tamat)
Bittersweet Adventure 3.0: Bisikan Sesat (Bagian 2/Tamat)
Sampe ketiduran
Bittersweet Adventure 3.0: Bisikan Sesat (Bagian 2/Tamat)
Muka ku disini putih ya :v
Bittersweet Adventure 3.0: Bisikan Sesat (Bagian 2/Tamat)
Mbak yang baju putih namanya siapa ya? ehehe
Bittersweet Adventure 3.0: Bisikan Sesat (Bagian 2/Tamat)
Manisnya kayak kecap DEF
Setelah puas, kami kembali ke mushola buat istirahat dan foto-foto lagi. Pemandangan dari area mushola juga gak kalah bagus koq.

Bittersweet Adventure 3.0: Bisikan Sesat (Bagian 2/Tamat)
Apik toh? hehehe
Karena kalo ke Bromo cuman lihat matahari terbit tok itu kurang greget, maka kami akhirnya mencoba mendaki gunung Bromo. Hahaha ini debut gue sampe puncak gunung. Oh iya, kalo pergi kesana usahakan bawa masker ya. Soalnya selain banyak pasir halus yang berterbangan, kalian akan banyak menemukan tai kuda di jalan yang menghasilkan aroma tidak sedap.
Bittersweet Adventure 3.0: Bisikan Sesat (Bagian 2/Tamat)

Selesai mendaki gunung, kami pun bersiap untuk pulang dengan melewati pasir berbisik itu lagi. Tapi pasir berbisik kalo pas pagi bagus banget lho (asal gak tersesat aja, hihihi) kayak di gurun. Jadi pengen buat foto pre-wedding disini hehehe
Bittersweet Adventure 3.0: Bisikan Sesat (Bagian 2/Tamat)

Bittersweet Adventure 3.0: Bisikan Sesat (Bagian 2/Tamat)

Habis lewat pasir berbisik, tempat selanjutnya dalah Bukit Teletubbies.  Bukit yang indah saat siang dan berubah menjadi mencekam saat malam karena gak ada penerangan sama sekali.
Bittersweet Adventure 3.0: Bisikan Sesat (Bagian 2/Tamat)

Alhamdulillah ya Allah, akhirnya selesai juga perjalanan ini. Atas pertolongan mu, kami masih hidup dan sehat sampai sekarang. Makasih juga buat teman-teman ku yang ikut dalam “petualangan” ini dan juga pembaca sekalian 

Minggu, 29 Juni 2014

Bittersweet Adventure 3.0: Bisikan Sesat (Bagian 1)


              Akhirnya libur semester telah tiba. Setelah menjalani semester 4 yang penuh dengan kejutan. Hari jum’at tanggal 27 Juni 2014 merupakan hari terakhir UAS dan 2 hari kemudian sudah memasuki bulan Ramadhan. Maka dari itu, aku dan teman-teman ku memutuskan untuk pergi ke  gunung Bromo lagi. Soalnya pas dulu kesana cuman ke Penanjakan terus pulang, rugi banget. Peserta sebelumnya yang sudah pernah ke Bromo diantaranya aku, Leo, Rangga, dan Tyo serta 6 peserta debut yaitu Bram, Pendik, Anggia, Anggit, Fajar, dan Agung. Beberapa hari sebelumnya, waktu keberangkatan di tentukan sehabis jum’atan namun karena beberapa alasan akhirnya waktu keberangkatan di putuskan menjadi jam 8 malam.

                Sekitar jam 23:30, kami sampai di pos penjagaan dimana kami membayar biaya masuk dan istirahat sebentar ditemani bintang-bintang. Kemudian kami melanjutkan perjalanan. Selama perjalanan, tidak ada halangan yang berarti. Paling hanya suhu pegunungan yang dingin ataupun jalan yang rusak hingga akhirnya kita sampai ke kawasan Pasir Berbisik, “gurun” nya gunung Bromo.
gunung-bromo-pasir-berbisik
Kayak gurun di Arizona. Padahal itu gunung Bromo dari samping
Sebelum memasuki Pasir Berbisik, kami melewati tebing dan perbukitan hijau yang biasa disebut “Bukit Teletubbies”. Jalan di daerah ini masih lumayan bisa di ikuti dikarenakan jalur yang sudah ada. Saat memasuki Pasir Berbisik jalan dan bintang dilangit masih bisa dilihat walaupun kabut tipis mulai turun. Sambil melanjutkan perjalanan, ternyata kabut semakin tebal sehingga jarak pandang hanya sekitar 1 meter. Aku dan Tyo mengambil posisi paling depan sebagai penunjuk jalan dengan mengandalkan insting dan jejak kendaraan yang sebelumnya lewat.
                “Koq kayaknya kita dari tadi cuman muter-muter aja ya,” Bilang Anggia dengan heran.
                “Ah gak koq, emang jaraknya agak jauh,” balas Rangga dengan yakin.
Sebenernya aku juga berpikiran seperti itu. Dulu pas pertama kali kesana gak seperti ini. Setelah sekian lama mencari jalan, akhirnya kami menemukan sebuah papan peringatan.
gunung-bromo-pasir-berbisik
Gak boleh masuk katanya
Mungkin kami lagi di jalur yang salah sehingga kami memutuskan untuk berbalik arah. Kabut semakin tebal hingga menutupi bintang. Kami semakin kesulitan dalam mencari arah. Setelah berkendara cukup lama, akhirnya kami menyerah dan memutuskan untuk berhenti sambil menunggu kendaraan lain lewat. Beberapa menit kemudian, suara mesin mobil jeep terdengar sayup-sayup dan terlihat cahaya dari kejauhan. Kami segera memberi sinyal dengan menyalakan lampu motor sambil melambaikan tangan. Untungnya mobil jeep tersebut merespon namun mereka hanya memberi klakson dan melaju dengan cepat. Kami langsung mengikuti mobil jeep tersebut. Sayangnya kami kehilangan jejak mobil tersebut selain karena terlalu cepat dan beberapa dari kami tertinggal akibat medan pasir yang licin. Selanjutnya, kami hanya mengikuti jejak ban mobil tersebut. Beberapa saat kemudian kami menemukan papan peringatan dalam kondisi mengenaskan.
gunung-bromo-pasir-berbisik
Maksudnya apa?
Kami semakin bingung karena kehilangan arah. Kemudian kami berbalik arah ke tempat awal tadi dengan berbekal insting seadanya dan jejak ban motor kami sebelumnya. Suhu dingin yang menusuk tulang, hidung dan mata mulai berair. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti dan mencari sesuatu yang bisa dibakar untuk menghangatkan tubuh. Kami akhirnya menemukan rumput bekas makanan kuda namun basah karena terkena embun. Sambil menyiapkan perapian seadanya, beberapa dari kami berusaha menghangatkan tubuh dengan berpelukan menempelkan tangan pada knalpot namun apadaya karena saat itu panas knalpot hanya sebatas suhu pada ketek, hehehe. Kami berdoa dalam hati berharap pertolongan Allah. Alhamdulillah, tak lama kemudian 3 buah mobil jeep muncul, kami pun langsung mencegat dan bertanya ke salah satu orang disana.
                “lurus abis itu belok kiri, mas. Ayo buruan kalo mau ngikutin” Jawab orang tersebut.
Kami segera bersiap, namun masalah selanjutnya muncul.
                “Rek, kunci motor ku mana ya?” Tanya Tyo yang udah mulai panik.
Waduh!!!! Gimana ini????
-          Bersambung    -